Kucing Di Tengah Burung Dara (Cat Among The Pigeons, 1959)


Sebuah revolusi disusul kudeta di sebuah kerajaan di  Timur Tengah membawa efek terbunuhnya tiga guru pengajar di Meadowbank, sekolah putri terbaik dan paling dihormati di Inggris. Hanya karena sepupu jauh sang raja yang terguling kebetulan bersekolah disana? Kenapa harus guru-guru, wanita wanita berdedikasi, pendidik, yang jauh dari hiruk pikuk politik.

Ya,ya,ya, seperti yang Poirot bilang, pembunuhan hanyalah imbas dari nafsu untuk menguasai kekayaan.... Kerajaan Ramat, dengan rajanya Yang Mulia Pangeran Ali Yusuf, berpendidikan Inggris, di ambang kejatuhan. Pada saat-saat terakhir dia meminta sahabatnya, Bob Rawlinson, untuk menyampaikan sesuatu untuk seseorang di Inggris. Sebagai sahabat, Bob menyanggupi permintaan sahabatnya itu. Namun Tragedi baru saja dimulai.

Wasiat sang Raja, dengan mempertimbangkan keamanan, disembunyikan dalam raket tenis seorang siswi Meadowbank. Namun rahasia bocor ke tangan seorang agen yang licin, berbahaya, dan tak segan segan membunuh. Sang agen melamar sebagai guru di Meadowbank. Ia menjadi seorang kucing di tengah burung dara. Pembunuhan pembunuhan disusul penculikan terjadi. Terhadap penculikan yang membingungkan, Poirot berkomentar:

....lutut seorang wanita yang berumur 23 atau 24 tidak akan pernah bisa dikelirukan dengan dengan lutut seorang gadis berumur 14 atau 15 tahun. Tapi sayang, tak seorangpun yang memperhatikan lututnya... (hal.511)

Namun mengenai pembunuhan, tak disangka-sangka motivasi perburuan harta karun sang Raja berkelindan dengan pembunuhan karena iri hati seorang guru. Keadaan bertambah buruk saja, martabat Meadowbank terancam ambruk.  Poirot bertindak. Harus bertindak. Bekerja sama dengan Mr. Robinson dan Kolonel Pikeway (aha! ketemu lagi tokoh ini) Meadowbank akhirnya mendapatkan solusi terbaik khas Poirot. Di ujung cerita, Poirot bertemu seorang ibu muda Inggris yang gamang :

....Dia beragama Islam dan dia bisa punya lebih dari seorang istri, dia pun tahu bahwa dia harus kembali.... ( hal 353)

Pesan terakhir Pangeran Ali Yusuf telah sampai kepada yang berhak. Permata delima itu telah kembali, delima bukti cinta sang Pangeran.

Catatan kaki:

Persentuhan Agatha Christie dengan dengan dunia Islam terjadi beberapa kali. Di antaranya dalam novel ini. Walaupun isu sensitif - terutama poligami - tak terhindarkan dalam kisah ini, nampaknya Agatha tidak terpancing untuk mempermasalahkannya. Dia hanya menjadikan budaya poligami terutama di kalangan kesultanan ini hanya sebagai background cerita yang berujung pembunuhan di Meadowbank. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Peringkat Novel Agatha Christie

Saya benci pemeringkatan. Apalagi bila menyangkut penulis favorit Agatha Christie. Tetapi pemeringkatan menjadi keniscayaan - bukankah setiap pencipta agung mempunyai masterpiece? Dan mengenali sebuah masterpisece adalah tugas seorang reviewer. Maka saya menyematkan **** alias empat bintang untuk karya masterpiece, *** tiga bintang untuk karya 'out of the box', ** dua bintang untuk karya kategori bagus, dan satu bintang * untuk karya standar Agatha. Tentu saja ini subyektif, pendapat anda lebih benar. Klik di sini untuk melanjutkan.